| |
Aroma Senja Terakhir • Bab 01

Bab 01: Dentang Jam Dinding dan Surat yang Menguning

Oleh Regina Maharani Rahman Estimasi baca: ~8 menit

Jam dinding pendulum berbahan kayu jati itu masih berdetak dengan ritme yang sama seperti dua puluh tahun silam. Logam tembaganya sedikit menghitam dimakan jelaga dan waktu, namun di ruang tengah rumah joglo yang hening ini, suaranya terdengar serupa debar jantung yang menolak mati.

Kalingga meletakkan cangkir enamel berisi seduhan teh tubruk beraroma melati di atas meja marmer. Matanya terpaku pada sebuah kotak pernis cokelat tua yang baru saja ia turunkan dari loteng. Di sudut kanan kotak itu, ada bekas guratan paku yang membentuk huruf ‘R’ kecil—tanda rahasia yang ia dan Raras buat saat musim kemarau tahun sembilan puluh delapan.

“Waktu tidak pernah benar-benar mengubur apa pun, Lingga. Ia hanya menimbunnya dengan debu tipis sampai seseorang yang cukup rindu datang menyapanya kembali.”

Ia menarik napas panjang. Udara sore di tepian Sungai Progo terasa dingin menyengat kulit. Di luar, semburat lembayung mulai merambat di pucuk-pucuk pohon kelapa, membakar langit barat menjadi jingga tembaga yang muram.

Ketika tutup kotak itu dibuka perlahan, engsel kuningan yang berkarat mendesing halus. Di dalamnya, bertumpuk belasan pucuk surat dengan amplop berserat kasar yang warnanya telah berubah menjadi kuning gading. Di atas tumpukan teratas, sehelai pita satin merah marun yang telah pudar mengikat sejumput daun pinus kering.

Kalingga mengambil surat teratas. Ujung jarinya gemetar saat menyentuh lekuk tinta hitam yang ditulis dengan pena celup:

“Untuk Kalingga, jika kelak gerimis di bulan Oktober mengingatkanmu pada jembatan gantung itu, jangan mencariku di antara orang-orang yang pulang. Carilah aku pada aroma tanah yang rela dibasahi tanpa menuntut penjelasan…”

Kalingga terpekur. Dua puluh tahun ia mengembara dari satu perpustakaan kota ke perpustakaan lain di benua yang jauh, merestorasi lembaran naskah kuno abad pertengahan yang hampir hancur. Namun ironisnya, lembaran hidupnya sendiri tak pernah berhasil ia pulihkan sejak sore berdarah itu.

Komentar (2)

Tanggapan & Jejak Pembaca

Ruang diskusi sastra