| |
Aroma Senja Terakhir • Bab 02

Bab 02: Jejak Kaki di Tepian Kali Progo

Oleh Regina Maharani Rahman Estimasi baca: ~9 menit

Kabut pagi turun tebal menyerupai tirai sutra putih di atas permukaan Kali Progo yang mengalir deras. Bunyi gemercik air yang membentur bebatuan kali terdengar seperti gumam doa yang tak henti-henti dilantunkan sejak ribuan tahun yang lampau.

Kalingga berjalan menyusuri pematang basah berumput tebal. Jaket kanvas kelabunya terasa lembap terkena embun pagi. Langkahnya terhenti tepat di mulut jembatan gantung gantung tua yang terbuat dari papan kayu ulin dan kawat baja berkarat.

Dari kejauhan, sesosok bayangan tampak berdiri bersandar pada pagar pengaman jembatan. Perempuan itu mengenakan selendang tenun lurik biru tua yang berkibar perlahan ditiup angin lembah. Di tangannya, ia memegang sebuah buku sketsa kecil dengan sampul kulit yang telah kusam.

“Beberapa jembatan dibangun bukan untuk menghubungkan dua daratan, melainkan untuk memberi tempat bagi manusia berhenti dan melihat betapa jauhnya arus telah membawa mereka pergi.”

Langkah Kalingga tertahan. Detak jantungnya berdegup lebih cepat daripada deru arus di bawah jembatan. Jarak di antara mereka hanya tersisa sepuluh langkah. Saat perempuan itu menoleh, sepasang mata teduh dengan kerutan halus di sudutnya menatap Kalingga tanpa sedikit pun keterkejutan—seolah ia telah menunggu detik ini selama puluhan purnama.

“Kau terlambat dua puluh tahun, Kalingga,” ucap suara itu perlahan, nyaris terserap oleh suara gemuruh air kali.

Kalingga tercekat. Kata-kata yang telah ia latih ribuan kali di kamar sewaannya yang dingin di Leiden mendadak menguap tanpa sisa. Yang tertinggal hanyalah kenyataan bahwa waktu telah mengubah segalanya, kecuali tatapan mata itu.

Komentar (2)

Tanggapan & Jejak Pembaca

Ruang diskusi sastra