Jika Anda menutup seluruh ventilasi udara dengan lapisan busa peredam dan merapatkan gorden beludru abu-abu setebal tiga lapis, dunia di luar akan lenyap seketika. Klakson kendaraan bermotor, deru kereta komuter di jalan layang, bahkan suara petir yang menggelegar di langit Jakarta hanya akan terdengar seperti degup halus di bawah bantal.
Di ruangan seluas empat kali lima meter inilah Arga menghabiskan seratus empat puluh hari terakhirnya.
Ia duduk bersila di atas karpet wol kasar. Di depannya terhampar lusinan foto polaroid yang sengaja tidak ia susun berdasarkan urutan kronologis. Ada foto sudut cangkir kopi yang retak, foto sepasang sepatu kanvas yang basah oleh genangan air hujan, dan foto punggung seseorang yang sedang menatap etalase toko buku tua di Jalan Sabang.
“Kenangan itu berbahaya bukan karena ia menyakitkan, melainkan karena ia begitu pandai menyamar menjadi kebahagiaan yang tidak akan pernah terulang kembali.”
Arga meraih sebuah buku catatan kecil bergaris. Dengan pensil 2B yang ujungnya telah tumpul, ia menuliskan sebuah baris baru: “Hari ke-140: Hening di ruangan ini terasa lebih pekat dari biasanya. Mungkin karena aku mulai lupa bagaimana suaramu ketika memanggil namaku di pagi hari.”

Tanggapan & Jejak Pembaca
Ruang diskusi sastra