Dua cangkir porselen putih dengan motif bunga teratai biru berdiri bergeming di atas meja jati berkaki lengkung. Kopi tubruk pekat di dalamnya telah lama kehilangan kepulan asapnya, menyisakan lapisan minyak kecokelatan di permukaan yang mulai mengilap diterpa sinar lampu teplok.
Di luar kedai kecil yang terhimpit gang sempit kawasan Prawirotaman, hujan tengah malam turun dengan deras yang tak mengenal jeda. Suara air yang menimpa kanopi seng tua menyerupai ketukan ribuan jemari yang mendesak minta dibukakan pintu.
“Kau tahu mengapa orang-orang selalu takut pada keheningan saat hujan, Maya?” suara Rangga memecah desau angin. Jemarinya yang kurus mengetuk pelan pinggiran meja.
Maya tidak langsung menjawab. Matanya tertuju pada tetesan air yang merayap di kaca jendela, berkelok-kelok mencari jalan tercepat menuju dasar kusen kayu sebelum akhirnya musnah terserap lumut.
“Karena dalam keheningan itulah, seluruh kebohongan yang kita susun rapi sepanjang siang mendadak kehilangan kekuatannya.”
“Bukan karena itu,” sahut Maya pelan. Ia menarik selendang tenunnya lebih rapat ke dada. “Orang-orang takut pada heningnya hujan karena saat itulah suara orang yang paling mereka rindukan terdengar paling nyaring di dalam kepala—meskipun orang itu sudah berjarak ratusan kilometer atau bahkan telah tiada.”
Rangga tersenyum tipis. Sebuah senyuman getir yang telah Maya kenal sejak mereka masih sama-sama belajar menulis puisi di bawah pohon beringin alun-alun belasan tahun silam.
“Sepuluh tahun aku merantau ke utara,” lanjut Rangga, suaranya nyaris berbisik. “Setiap kali musim penghujan tiba, aku selalu menyeduh dua cangkir kopi seperti ini. Satu untukku, dan satu lagi untuk kursi kosong di seberangku.”
“Dan malam ini kursi itu tidak kosong, Rangga.”
“Tapi kau tetap akan pergi besok pagi saat kereta pertama berangkat, bukan?”
Maya terdiam. Di luar jendela, gemuruh petir menyala sepersekian detik di langit selatan, menerangi wajah keduanya dengan kilatan putih yang dingin. Di antara dua cangkir kopi yang mendingin itu, sebuah kepastian yang tak terucap telah lama selesai diperdebatkan.

Tanggapan & Jejak Pembaca
Ruang diskusi sastra